
“Jadi, kalau sampai aku kena stroke dan nggak bisa kerja, rumah ini bisa disita bank?”
Nadanya pelan, tapi mata suamiku penuh kekhawatiran. Aku terdiam. Baru kali ini kami sadar: KPR memang sudah termasuk asuransi jiwa, tapi… bagaimana kalau sakit kritis menghentikan langkah kita, sebelum sempat lunas?
Kenyataan Pahit: Asuransi KPR Tak Melindungi dari Sakit Kritis
Banyak orang merasa aman setelah menandatangani akad Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang berasuransi jiwa. Artinya, kalau nasabah wafat, utang KPR akan dilunasi asuransi. Keluarga tak perlu teruskan cicilan.
Tapi ada satu celah risiko yang sering tak disadari: asuransi jiwa itu tidak mencakup sakit kritis.
Padahal, risiko yang satu ini bisa lebih menghancurkan secara finansial dibanding meninggal dunia. Kalau nasabah sakit kritis, lalu tidak bisa bekerja, cicilan jalan terus.
Bayangkan Skenario Ini:
-
Seorang ayah usia 38 tahun baru saja ambil KPR 20 tahun.
-
Lima tahun kemudian, ia terkena stroke.
-
Ia selamat, tapi tidak bisa lagi bekerja kantoran.
-
Penghasilan terhenti, sementara cicilan KPR tetap berjalan.
-
Setelah menunggak beberapa bulan, bank menyita rumah tersebut.
Banyak orang selamat dari sakit kritis… tapi kehilangan segalanya.
Kenapa Asuransi Sakit Kritis Penting untuk Pemilik KPR?
Berikut alasan kenapa asuransi sakit kritis adalah pelengkap wajib setelah mengambil KPR:
-
Menjaga agar cicilan tetap bisa dibayar
Saat Anda tak bisa bekerja karena sakit kritis, manfaat tunai dari asuransi sakit kritis bisa digunakan untuk membayar cicilan hingga pulih—atau bahkan melunasi utang agar meringankan beban. -
Menghindari risiko rumah disita
Keterlambatan cicilan KPR bisa berujung pada penyitaan. Asuransi sakit kritis membantu Anda tetap punya pegangan finansial saat penghasilan menghilang. -
Menjaga kualitas hidup keluarga
Uang dari asuransi bisa dipakai bukan cuma untuk cicilan, tapi juga biaya pengobatan, pemulihan, atau kebutuhan hidup sehari-hari.
Asuransi Jiwa KPR VS Asuransi Sakit Kritis Pribadi

Kapan Sebaiknya Ambil Asuransi Sakit Kritis?
Segera setelah KPR disetujui.
Semakin cepat Anda ambil, semakin murah preminya, dan semakin besar perlindungan yang bisa didapat.
Bagi pemilik KPR usia produktif (25–45 tahun), perlindungan terhadap penyakit seperti kanker, stroke, jantung, atau gagal ginjal sebaiknya sudah dimiliki sejak awal. Bila sudah punya sebelum ambil KPR, lebih baik lagi. Pastikan saja santunan cukup untuk menutup nilai KPR.
Berapa Biayanya?
Tenang, premi asuransi sakit kritis bisa disesuaikan dengan anggaran. Mulai dari ratusan ribu rupiah per bulan, Anda sudah bisa mendapatkan manfaat perlindungan hingga ratusan juta rupiah.
Dan ingat: lebih mahal kehilangan rumah, daripada bayar premi tiap bulan.
Penutup: Rumah Impian Tak Cukup Dijaga dengan Semangat
Rumah yang Anda cicil dengan kerja keras pantas dilindungi, bukan hanya dari kematian, tapi juga dari krisis kesehatan yang bisa datang tiba-tiba. Dan yang namanya risiko sakit kritis, tidak bisa dihindari hanya dengan rajin pakai baju APD.
Jangan tunggu terkena dulu baru sadar perlu proteksi.
Yuk, ngobrol santai dulu soal asuransi sakit kritis yang cocok untuk pemilik KPR.
Saya, Agung, siap bantu lewat Whatsapp atauTelegram.
Garansi: hanya akan dijelaskan, tanpa dikejar closing!
Discover more from Proteksi Terbaik
Subscribe to get the latest posts sent to your email.