sebuah keluarga yang pencari nafkahnya tertimpa musibah sakit kritis sehingga kehilangan pendapatan sementara tagihan terus bertambah

Pemahaman Sakit Kritis yang Terlambat

“Ma… Papa kapan sembuhnya?”

Perempuan 38 tahun itu, yang kita sebut saja Laksmi, terdiam. Ingin rasanya memberikan jawaban yang bisa melegakan anaknya. Tapi ia tahu, harapan semu hanya akan menghadirkan kekecewaan lebih besar.

“Kita doain aja ya Nak,” jawabnya mengambang.

Sudah hampir 5 bulan suaminya terbaring tak berdaya di rumah. Dokter menyatakan, harapan sembuh masih ada, namun perlu upaya ‘ekstra’ — kata lain dari ‘mahal’.

Laksmi melirik lembar-lembar tagihan di depannya. Obat-obatan, suplemen, dan terapi lanjutan yang dibutuhkan suaminya menggerus limit kartu kredit tanpa ampun. Sementara, baru saja pihak kantor menghubungi. Staf HRD di telepon terdengar sopan namun tegas. Menginformasikan pembayaran gaji berikutnya akan dipotong 25%. Katanya, sesuai ketentuan ketenagakerjaan.

Tanpa sadar Laksmi berucap lirih, “Jadi, begini yang namanya sakit kritis…”

Ingatannya melayang ke momen dua tahun lalu, di sebuah cafe. Ia, suaminya, dan seorang agen asuransi duduk semeja.

“…selain fasilitas kesehatan rawat inap, polis Bapak juga akan dilengkapi dengan santunan sakit kritis sebesar 1 miliar,” jelas agen itu.

“Sebentar,” potong Laksmi. “Fasilitas rawat inapnya, bisa dipakai untuk berobat sakit apa pun, kan? Termasuk sakit kritis?”

“Benar, Ibu, namun kalau boleh saya jelaskan dulu, bahwa…”

“Saya rasa tidak perlu, Mas. Kan biaya rawat inapnya sudah ditanggung. Buat apa lagi ada santunan sakit kritis? Coba hitungkan, kalau nggak pakai santunan sakit kritis, berapa preminya?”

Agen itu mengutak-atik angka di iPad-nya, lalu menunjukkan layarnya. Angka yang lebih kecil dari sebelumnya terpampang. “Preminya jadi sekian, Ibu. Tapi kalau boleh saya jelaskan, bahwa santunan sakit kritis itu…”

“Tidak perlu Mas. Fasilitas rawat inap saja sudah cukup. Kita nggak ingin preminya kemahalan.”

Asuransi Sakit Kritis: Karena Tagihan Rumah Sakit Hanyalah Pucuk Gunung ES

banyak permasalahan menanti saat pasien didiagnosis sakit kritis

Gambar ini bisa menggambarkan bagaimana asuransi sakit kritis bisa membantu nasabah. Pada saat seorang pencari nafkah terdiagnosis sakit kritis, maka biaya rumah sakit ibarat pucuk kecil dari gunung es yang besar. Sakit kritis bukanlah sakit biasa yang bisa sembuh total. Sakit kritis adalah kondisi yang menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan bekerja, bahkan kehilangan kemandirian hidup.

Setiap perusahaan asuransi mungkin memiliki batasan yang berbeda tentang kondisi apa yang bisa dikategorikan sakit kritis, namun satu kondisi yang pasti sama adalah stroke.

Seorang pasien stroke mungkin tidak perlu dirawat terlalu lama di rumah sakit. Mungkin setelah 2 minggu masa perawatan sudah boleh pulang. Walaupun demikian, sepulang dari rumah sakit ia akan kehilangan kemampuan bekerja. Bagi pegawai, kondisi ini bahkan bisa berujung pada PHK. Padahal, kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Tagihan-tagihan rutin tetap harus dibayar, juga biaya pendidikan anak dan cicilan utang. Masih ditambah lagi dengan pengeluaran tambahan terkait kondisinya, seperti biaya terapi atau obat. Semuanya ini menambah tekanan finansial, sehingga tidak sedikit keluarga yang terpaksa bangkrut gara-gara sakit kritis.

Dalam kondisi seperti inilah asuransi sakit kritis berperan penting. Santunan tunainya dapat digunakan untuk menutup biaya rutin serta biaya pengobatan lanjutan yang tidak ditanggung asuransi kesehatan. Apabila pasien ingin berobat ke luar negeri, biaya tiket dan akomodasi juga dapat ditutup dengan santunan dari asuransi sakit kritis.

Apakah Asuransi Sakit Kritis Hanya Perlu untuk Pencari Nafkah?

Para pencari nafkah sangat penting memiliki asuransi sakit kritis, namun bukan berarti hanya mereka yang perlu dilindungi. Anggota keluarga yang lain juga perlu, termasuk anak-anak. Mengapa demikian?

Santunan tunai dari asuransi sakit kritis bisa dimanfaatkan untuk biaya pengobatan lanjutan yang tidak ditanggung asuransi kesehatan. Secara umum, asuransi kesehatan hanya menanggung biaya pengobaan di rumah sakit saja. Sekalipun ada asuransi kesehatan yang dilengkapi dengan pertanggungan rawat jalan, biasanya batas pertanggungannya tidak besar. Untuk kondisi seperti inilah asuransi sakit kritis sangat dibutuhkan.

Ingin tahu lebih lanjut tentang asuransi sakit kritis? Silakan hubungi saya, Agung, di salah satu link berikut! Garansi: saya hanya akan menjelaskan satu kali, tanpa follow up atau mendesak Anda untuk segera buka polis.


Discover more from Proteksi Terbaik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

By Agung Nugroho

Mantai pegawai baik-baik yang pensiun dini untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya proteksi

2 thoughts on “Asuransi Sakit Kritis: Pelengkap yang Sering Bikin Salah Tangkap”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *